Skip to main content

363 - Hadits riwayat Qatadah ra. ia berkata:

363 - Hadits riwayat Qatadah ra. ia berkata: Rasulullah saw. berkhutbah di hadapan kami:
Sesungguhnya kalian akan menempuh perjalanan pada sore dan malam hari. Besok juga kalian akan mendatangi air. Satu persatu para shahabat berangkat. Rasulullah berjalan terus hingga tengah malam dan aku selalu berada di sampingnya. Lalu beliau mengantuk sehingga badannya agak miring dari tunggangan. Aku dekati beliau dan mendorongnya hingga lurus kembali tanpa membuatnya terbangun.

Kemudian beliau meneruskan perjalanannya hingga ketika tengah malam berlalu, tubuh beliau miring lagi dari hewan tunggangannya. Aku mendorongnya hingga lurus kembali tanpa membuatnya terbangun. Beliau terus berjalan hingga menjelang Shubuh. Tubuhnya miring lagi -lebih miring dari yang sebelum-sebelumnya- dan hampir terjungkal.

Aku dekati beliau dan mendorongnya, tetapi beliau mengangkat kepalanya terbangun dan bersabda: Siapa ini? Aku menjawab: Abu Qatadah. Beliau bertanya: Sejak kapan kamu berjalan (dekat) denganku seperti ini? Aku menjawab: Sejak tadi malam. Beliau bersabda: Semoga Allah menjagamu karena kamu telah menjaga nabi-Nya.

Kemudian beliau bertanya: Apakah kamu lihat aku tidak mengenai manusia? Apakah kamu melihat hal itu padaku? Aku menjawab: Ini seorang penunggang. Dan ini juga seorang penunggang lagi. Hingga kita tujuh orang berkumpul di dekat beliau.

Kemudian beliau membelok dari jalan seraya meletakkan kepalanya (ingin tidur) dan berpesan: Perhatikan dan jaga shalat kita. Ternyata Rasulullah saw. malah orang yang bangun pertama kali. Saat itu matahari sudah menerpa punggung beliau. Kami bangun dengan kaget. Naiklah ke tunggangan, kata beliau. Maka kami naik dan meneruskan perjalanan hingga ketika matahari sudah naik tinggi beliau turun. Beliau meminta tempat air yang ada padaku, di dalamnya ada sedikit air. Lalu Beliau berwudhu secukupnya. Ada sisa air sedikit, kata Rasulullah kepada Abu Qatadah, Simpan tempat air itu. (Kelak sisa air ini akan menjadi sebuah cerita menarik).

Kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Beliau melaksanakan shalat dua raka`at, setelah itu shalat Shubuh, seperti yang dilakukan beliau setiap hari.

Kami dan Rasulullah kembali menunggang. Saat itu kami saling berbisik: Apa kaffarat yang harus kita lakukan atas kelengahan kita dalam shalat? Ternyata bisik-bisik kami didengar oleh Rasulullah, sabda beliau: Bukankah aku adalah panutan kalian. Sesungguhnya tidur itu tidak bisa disebut sebagai kelengahan. Kelengahan itu kalau seseorang (sengaja) tidak melakukan shalat hingga habis waktunya. Siapa saja yang melakukan hal itu, maka segeralah laksanakan saat ia ingat. Besok hari dia harus shalat tepat waktu.

Kemudian beliau bertanya: Apa yang diperkirakan shahabat lainnya tentang kita? (maksudnya, ketika beliau dan tujuh shahabatnya tertidur lalu melakukan shalat Shubuh setelah matahari tinggi, terpisahlah beliau dengan kelompok shahabat yang lain yang lebih banyak, termasuk Abu Bakar dan Umar)

Selanjutnya sabda Nabi saw: Mereka kehilangan nabi mereka. Abu Bakar dan Umar berkata: Rasulullah saw. di belakang kalian. Beliau tidak meninggalkan kalian. sebagian lagi berkata: Rasulullah saw. berada di depan kalian. Jika mereka mematuhi Abu Bakar dan Umar tentu mereka mendapat petunjuk.

Akhirnya kami dapat menyusul shahabat lainnya pada siang hari, segala sesuatunya terasa panas. Mereka berkata: Wahai Rasulullah! Kita akan mati kehausan. Rasulullah bersabda: Kalian tidak akan mati. Lepaskan ikatan tempat airku. Beliau meminta tempat air dan menuangnya, sedangkan Abu Qatadah membagi-bagikannya. Mereka saling berdesak-desakan untuk mendapatkannya.

Rasulullah saw. mengatur mereka: Teraturlah kalian, semua akan segar. Mereka mematuhi perintah Rasulullah saw. Jadilah sekarang Rasulullah yang menuang air dan aku (Abu Qatadah) yang membagi-bagikannya hingga tinggal aku dan Raulullah. Beliau bersabda: Minumlah. Aku jawab: Tidak wahai Rasulullah! Aku tidak mau minum sebelum Anda minum.

Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya, pemimpin kaum adalah orang yang minum terakhir. Maka aku minum, kemudian Rasulullah saw. Para shahabat telah dapat beristirahat dengan tenang dan segar.

Abdullah bin Rabah berkata: Aku menceritakan hadits ini di masjid. Tiba-tiba Imran bin Hushein berkata: Lihat! Bagaimana kamu bercerita. Aku adalah salah satu penunggang di malam itu. Berarti Anda lebih tahu tentang ceritanya, kata Abdullah. Kamu termasuk kelompok mana, tanya Imran. Aku anshar, jawab Abdullah. Kalau begitu berceritalah. Anda lebih tahu, pinta Imran. Aku sudah ceritakan tadi, jawab Abdullah. Lalu Imran berkata: Aku telah menyaksikan kejadian malam itu. Aku rasa tidak ada seseorang yang mengingatnya seperti Anda